KARBOFURAN DAN ENDOSULFAN

PERMASALAHAN KARBOFURAN DAN ENDOSULFAN

 DALAM PERTANIAN

 

 

Disusun Oleh :

Aji Sukardi

Bahri Hidayat

Hasnan Yasin

Numan Najib Najmudin

Rini Sulihati

Victor Mangontang Bakkara

Wahyudi

 

 

FMIPA/MATEMATIKA

Universitas Pamulang

Jl Surya kencana No.1 Pamulang

 

 

KATA PENGANTAR

Assalaamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh

            Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang Alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “PERMASALAHAN KARBOFURAN DAN ENDOSULFAN DALAM PERTANIAN”. .   Kedua pestisida (bahan pestisida) tersebut memiliki banyak sekali permasalahan, baik itu dampaknya pada manusia maupun bagi mahluk hidup yang lain. Pestisida ini bisa menyebabkan gangguan pada endokrin dan kerusakan reproduksi serta gangguan kesehatan lainnya.

Di mana isi makalah kami ini mencakup : Pendahuluan yang berisi latar belakang, rumusan masalah dan tujuan kami membuat makalah ini, kemudian Tinjauan pustaka yang berisi penjelasan tentang karbofuran dan endosulfan dari segi keilmuan dan hasil penelitian mulai dari pengertian, sejarah, penggunaan, produksi, dan efek-efeknya; dan juga Pemecahan masalah yang berisi solusi yang kami sajikan untuk masalah yang ditimbulkan oleh pestisida tersebut, serta Penutup yang berisikan Kesimpulan dan saran kami mengenai permasalahan tersebut.

            Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini, sehigga makalah ini bias bermanfaat bagi seluruh Mahasiswa/i Universitas Pamulang kususnya dan semua orang pada umumnya. Dan kami ucapkan terimakasih  kepada Bapak Irwan Mulyadi selaku Dosen yang memberikan mata kuliah ini, dan juga terimakasih kepada teman-teman yang membantu kami menyelesaikan makalah ini. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan iman dan islam kepada kita semua, amiin.

Wassalaamualaikum Warrahmatullahi Wabarakaatuh


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………………………………… 1

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………………………………. 2

BAB I

PENDAHULUAN………………………………………………………………………………………………………. 3

  1. A.    Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………. 3
  2. B.     Rumusan Masalah……………………………………………………………………………………………. 8
  3. C.    Tujuan……………………………………………………………………………………………………………… 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA……………………………………………………………………………………………… 10

  1. A.    Karbofuran……………………………………………………………………………………………………… 10
  2. B.     Endosulfan……………………………………………………………………………………………………….. 12

BAB III

PEMECAHAN MASALAH………………………………………………………………………………………… 17

BAB IV

PENUTUP………………………………………………………………………………………………………………….. 21

  1. A.    Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………. 21
  2. B.     Saran……………………………………………………………………………………………………………….. 21

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………. 23


 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang

Salah satu bidang yang perannya tidak kalah pentingn dalam kehidupan ini adalah pertanian. Dalam upaya meningkatkan mutu dan produktivitas hasil pertanian, penggunaan pestisida untuk membasmi hama tanaman sering tak terhindarkan. Pestisida yang digunakan diharapkan dapat membantu petani dalam mendapatkan keuntungan yang maksimal. Penggunaan pestisida secara berlebihan dan tidak terkendali seringkali memberikan risiko keracunan pestisida bagi petani. Risiko keracunan pestisida ini terjadi karena penggunaan pestisida pada lahan pertanian khususnya sayuran. Penggunaan pestisida dengan dosis besar dan dilakukan secara terus menerus akan menimbulkan beberapa kerugian, antara lain residu pestisida akan terakumulasi pada produk-produk pertanian, pencemaran pada lingkungan pertanian, penurunan produktivitas, keracunan pada hewan, keracunan pada manusia yang berdampak buruk terhadap kesehatan. Manusia akan mengalami keracunan baik akut maupun kronis yang berdampak pada kematian. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan setiap tahun terjadi 1 – 5 juta kasus keracunan pestisida pada pekerja pertanian dengan tingkat kematian mencapai 220.000 korban jiwa. iv Sekitar 80% keracunan dilaporkan terjadi di negara-negara sedang berkembang.

Penggunaan pestisida tanpa mengikuti aturan yang diberikan membahayakan kesehatan manusia dan lingkungan, serta juga dapat merusak ekosistem. Dengan adanya pestisida ini, produksi pertanian meningkat dan kesejahteraan petani juga semakin baik. Karena pestisida tersebut racun yang dapat saja membunuh organisme berguna bahkan nyawa pengguna juga bisa terancam bila penggunaannya tidak sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Kejadian keracunan tidak bisa di tanggulangi lagi sebab para petani sebagian besar menggunakan pestisida kimia yang sangat buruk bagi kesehatan mereka lebih memilih pestisida kimia dari pada pestisida botani (buatan) kejadian keracunan pun sangat meningkat. Mnurut data kesehatan pekan baru tahun 2007 ada 446 orang meninggal akibat keracunan pestisida setiap tahunnya dan sekitar 30% mengalami gejala keracunan saat menggunakan pestisida Karena petani kurang tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan penggunaan pestisida secara berlebihan, dan berdasarkan hasil penilitian Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. dari Sumatera Barat tahun 2005 mengatakan penyebab keracunan pestisida akibat kurang pengetahuan petani dalam penggunaan pestisida secara efektif dan tidak menggunakan alat pelindung diri saat pemajanan pestisida,hasilnya dari 2300 responden yang peda dasarnya para petani hanya 20% petani yang menggunakan APD (alat pelindung diri), 60% patani tidak tau cara menggunakan pestisida secara efektif dan mereka mengatakan setelah manggunakan pestisida timbul gejala pada tubuh ( mual,sakit tenggorokan, gatal – gatal, pandangan kabur, Dll.)dan sekitar 20% petani tersebut tidak tau sama sekali tentang bahaya pestisida terhadap kesehatan,begitu tutur Ir. La Ode Arief M. Rur.SC. beliau juga mengatakan semakin rendah tingkat pendidikan petani semakin besar risiko terpajan penyakit akibat pestisida. Karbofuran dan Endosulfan adalah contoh dari pestisida yang memiliki dampak yang cukup membahayakan, bahkan di beberapa Negara telah melarang penggunaan pestisida ini.

Karbofuran juga adalah insektisida golongan karbamat yang berspektrum luas dan nonkumulatif, merupakan inhibitor enzim kholinesterase melalui kontak dan bekerja pada stoma tanaman dan sangat toksik terhadap mamalia (IPCSINTOX, 1985; FAO, 1997). Insektisida ini bersifat sistemik yang tidak bersifat fitotoksik. Karbofuran digunakan secara luas sebagai insektisida, nematisida dan akarisida yang digunakan dalam pengawetan benih tanaman, aplikasi pada lahan tanaman, dan secara langsung atau pada daun tanaman pangan seperti jeruk, jagung, alfalfa, padi, kentang, kedelai dan tembakau (TOBIN, 1970; BONNER et al., 2005; FAO 1997). Secara fisik, karbofuran berbentuk kristal, titik didih antara 150º – 152ºC, mengandung 98,8% senyawa aktif, tidak bersifat korosif dan tidak mudah terbakar (IPCSINTOX, 1985). Karbofuran didistribusikan dengan nama dagang Furadan. Karbofuran dikenal bersifat toksik pada mamalia dan sangat toksik atau fatal pada unggas. Aplikasi karbofuran melalui penyemprotan lahan dan area berpotensi untuk menimbulkan intoksikasi pada manusia, ternak dan hewan liar. Insektisida karbofuran ini dapat terserap melalui saluran pencernaan dan inhalasi dari proses penyemprotan, tetapi jarang terjadi melalui absorbsi kulit. Toksisitas karbofuran bersifat reversibel, hambatan langsung terhadap aktivitas kholinesterase melalui karbomoylasi dari gugusan ester enzim tersebut. Akumulasi asetilkholin pada simpul syaraf simpangan (junction) myoneural menimbulkan efek keracunan. Enzim karbomoyl mengalami reaktivasi secara spontan dan cepat. Karbofuran dan metabolit ester bersifat aktif. Intoksikasi akut buatan pada tikus betina diketahui bahwa kholinesterase otak lebih sensitif terhadap karbofuran dibanding kholinesterase plasma dan eritrosit.

Karbofuran juga diketahui sangat toksik pada unggas dan telah digunakan sebagai pembasmi hama burung di luar negeri (IPCSINTOX, 1985). Sediaan karbofuran dalam bentuk granul dapat membunuh burung bila tertelan hanya dengan 1 butir granul karbofuran. Oleh karena itu, bentuk granular karbofuran telah dilarang peredaran dan penggunaannya di Amerika Serikat sejak tahun 1991. Nilai LD50 karbofuran granul pada ayam domestik mencapai 6,0 mg/kg BB.

Keracunan karbofuran pada manusia umumnya terjadi akibat absorbsi dari saluran pencernaan (secara oral), melalui kulit (dermal) dan inhalasi akibat penyemprotan. Efek toksik pada manusia disebabkan karena aktivitas kholinesterase inhibitor sebagai pestisida bersifat neurotoksik. Gejala keracunan yang terlihat umumnya meliputi penglihatan yang kabur, mual, banyak berkeringat dan lemah.

Endosulfan adalah bahan aktif Insektisida golongan Organoklor yang diperuntukan untuk tanaman dan dalam perdagangannya telah diperingatkan agar tidak digunakan untuk lingkungan perairan. Namun oleh petani tambak di Kelurahan Keputih justru digunakan pada tambak mereka. Penggunaan pestisida endosulfan pada lahan berair merupakan pelanggaran dari Instruksi Presiden No.3 Tahun 1986 tentang insektisida yang memakai bahan aktif endosulfan dilarang digunakan untuk lahan berair. Apa yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi?. Pada penelitian ini akan dikaji 3 aspek, yaitu : aspek lingkungan, sosial budaya dan kelembagaan. Pada aspek lingkungan dikaji sejauh mana tingkat pencemaran tambak yang disebabkan oleh pestisida Endosulfan, yang dianalisis dengan menggunakan metode Kromatografi Gas. Aspek sosial budaya dikaji perilaku dan persepsi petani terhadap penggunaan pestisida endosulfan. Dalam aspek ini diukur tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petani terhadap endosulfan. Sedangkan aspek kelembagaan disusun suatu strategi sebagai upaya pengelolaan pestisida dengan menggunakan analisa SWOT. Dari hasil penelitian didapatkan konsentrasi terendah residu pestisida endosulfan pada air tambak adalah 0,0051 ppm, dan konsentrasi tertinggi 0,0094 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pencemaran air tambak telah melebihi dari batas aman hidup untuk ikan yaitu 0,00009 ppm, tetapi masih dibawah konsentrasi mematikan LC50 sebesar 0.0112 ppm. Dari aspek sosial budaya, ternyata petani masih memiliki tingkat pengetahuantentang pestisida endosulfan yang rendah yaitu sebesar 15 %, sikap yang setuju untuk penggunaan pestisida endosulfan adalah 78 % dan tindakan pelaksanaan yang tidak bersedia terhadap penggantian pestisida endosulfan dengan pestisida yang alami adalah 89 %. Hal ini menunjukkan bahwa petani berperilaku kurang baik terhadap penggunaan pestisida endosulfan. Dalam aspek kelembagaan berdasarkan analisis SWOT dihasilkan strategi tindakan turn-around (Strategi WO), yang berusaha meminimalkan kelemahan yang ada untuk merebut peluang yang lebih baik.

Endosulfan adalah salah satu pestisida yang paling beracun di pasar saat ini, endosulfan juga  bertanggung jawab untuk banyak insiden keracunan pestisida mematikan di seluruh dunia. Endosulfan juga adalah zat xenoestrogen sintetis yang meniru atau meningkatkan efek estrogen dan dapat bertindak sebagai sebuah pengganggu endokrin, menyebabkan kerusakan reproduksi dan perkembangan pada hewan dan manusia. Apakah endosulfan dapat menyebabkan kanker masih diperdebatkan. Sehubungan dengan asupan konsumen endosulfan dari residu pada makanan, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB telah menyimpulkan bahwa paparan jangka panjang dari makanan tidak mungkin untuk menyajikan masalah kesehatan masyarakat, namun paparan jangka pendek dapat melebihi dosis referensi akut.

Endosulfan adalah akut neurotoksik untuk kedua serangga dan mamalia, termasuk manusia. US EPA mengklasifikasikan sebagai Kategori I: “Highly akut Toxic” didasarkan pada nilai LD50 dari 30 mg / kg untuk tikus betina, sementara Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan sebagai Kelas II “Cukup Berbahaya” didasarkan pada tikus LD50 dari 80 mg / kg . ini adalah saluran klorida antagonis, dan Ca2 +, Mg2 + ATPase inhibitor. Kedua enzim yang terlibat dalam transfer impuls saraf. Gejala keracunan akut termasuk hiperaktif, tremor, kejang, kurangnya koordinasi, mengejutkan, kesulitan bernapas, mual dan muntah, diare, dan dalam kasus yang parah, pingsan. Dosis serendah 35 mg / kg telah didokumentasikan untuk menyebabkan kematian. pada manusia, dan banyak kasus keracunan subletal telah mengakibatkan kerusakan otak permanen pekerja pertanian dengan paparan endosulfan kronis beresiko ruam dan iritasi kulit. Akut referensi EPA dosis untuk paparan diet untuk endosulfan adalah 0,015 mg / kg untuk orang dewasa dan 0,0015 mg / kg untuk anak-anak. Untuk expsoure diet kronis, EPA referensi dosis adalah 0,006 mg / (kg · hari) dan 0,0006 mg / (kg · hari) untuk orang dewasa dan anak-anak, masing-masing.

Theo Colborn, seorang ahli gangguan endokrin, daftar endosulfan dikenal sebagai pengganggu endokrin, dan kedua EPA dan Badan Zat Beracun dan Penyakit Registry menganggap endosulfan menjadi pengganggu endokrin potensial. Sejumlah penelitian in vitro telah mendokumentasikan potensi endosulfan untuk mengganggu hormon dan studi hewan telah menunjukkan toksisitas reproduksi dan perkembangan, khususnya di kalangan laki-laki . Sejumlah penelitian telah mendokumentasikan bahwa ia bertindak sebagai anti androgen pada hewan. Endosulfan telah ditunjukkan mempengaruhi Crustacea siklus meranggas, yang penting proses fisiologis biologis dan endokrin yang dikendalikan penting untuk pertumbuhan krustasea dan reproduksi dosis lingkungan yang relevan dari endosulfan sama dengan dosis aman EPA dari 0,006 mg / kg / hari. telah ditemukan untuk mempengaruhi ekspresi gen pada tikus betina yang sama dengan efek estrogen. Hal ini tidak diketahui apakah endosulfan adalah teratogen manusia (agen yang menyebabkan cacat lahir), meskipun memiliki efek teratogenik yang signifikan pada tikus laboratorium. Sebuah penilaian 2009 menyimpulkan gangguan endokrin pada tikus terjadi hanya pada dosis yang menyebabkan neurotoksisitas endosulfan.

Beberapa penelitian telah mendokumentasikan bahwa endosulfan juga dapat mempengaruhi pembangunan manusia. Para peneliti mempelajari anak-anak dari banyak desa di Kasargod District, Kerala, India, telah menghubungkan paparan endosulfan keterlambatan dalam kematangan seksual di antara anak laki-laki. Endosulfan adalah pestisida hanya diterapkan pada perkebunan mete di desa-desa selama 20 tahun dan telah terkontaminasi lingkungan desa. Para peneliti membandingkan desa dengan kelompok kontrol anak laki-laki dari sebuah desa demografis serupa yang tidak memiliki riwayat pencemaran endosulfan. Sehubungan dengan kelompok kontrol, anak-anak terpapar memiliki tingkat tinggi endosulfan dalam tubuh mereka, rendahnya tingkat testosteron, dan keterlambatan dalam mencapai kematangan seksual. Cacat lahir dari sistem reproduksi laki-laki, termasuk kriptorkismus, juga lebih umum pada kelompok studi. Para peneliti menyimpulkan, “Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa paparan endosulfan pada anak laki-laki dapat menunda kematangan seksual dan mengganggu sintesis hormon seks.” insiden Peningkatan kriptorkismus telah diamati dalam studi lain dari populasi endosulfan terkena.

Sebuah studi 2007 oleh Departemen Kesehatan Masyarakat California menemukan bahwa wanita yang tinggal di dekat ladang pertanian disemprot dengan endosulfan dan dicofol organochloride terkait pestisida selama delapan minggu pertama kehamilan adalah beberapa kali lebih mungkin untuk melahirkan anak-anak dengan autisme. Ini adalah studi pertama untuk mencari hubungan antara endosulfan dan autisme, dan studi tambahan diperlukan untuk mengkonfirmasi sambungan. Sebuah penilaian 2009 menyimpulkan bahwa epidemiologi dan hewan pengerat studi yang menunjukkan efek reproduksi dan autisme laki-laki terbuka untuk interpretasi lain, dan bahwa toksisitas perkembangan atau reproduksi pada tikus terjadi hanya pada dosis yang menyebabkan neurotoksisitas endosulfan.

Endosulfan adalah kontaminan lingkungan di mana-mana. Bahan kimia semivolatile dan gigih untuk proses degradasi lingkungan. Endosulfan tunduk pada jarak transportasi atmosfer, yakni dapat melakukan perjalanan jarak jauh dari mana ia digunakan. Dengan demikian, hal itu terjadi dalam lingkup lingkungan banyak. Misalnya, laporan tahun 2008 oleh National Park Service menemukan bahwa endosulfan sering mencemari udara, air, tanaman, dan ikan dari taman nasional di Amerika Serikat. Sebagian besar taman yang jauh dari daerah di mana endosulfan digunakan. Endosulfan telah ditemukan di lokasi terpencil seperti Samudra Arktik, serta dalam suasana Antartika. pestisida juga telah terdeteksi dalam debu dari Gurun Sahara dikumpulkan di Karibia setelah ditiup melintasi Samudera Atlantik. Senyawa ini telah terbukti menjadi salah satu pestisida organoklorin yang paling melimpah di atmosfer global. Senyawa terurai menjadi sulfat endosulfan, endosulfan diol, dan endosulfan furan, yang semuanya memiliki struktur mirip dengan senyawa induk dan, menurut EPA, “juga menjadi perhatian toksikologi … The diperkirakan setengah-hidup untuk residu beracun gabungan ( endosulfan ditambah endosulfan sulfat) [rentang] dari sekitar 9 bulan sampai 6 tahun. ” EPA menyimpulkan, ” pada studi laboratorium nasib lingkungan, studi lapangan terestrial disipasi, model yang tersedia, studi pemantauan, dan literatur yang diterbitkan, dapat disimpulkan bahwa endosulfan adalah bahan kimia yang sangat gigih mungkin tinggal di lingkungan untuk jangka panjang waktu, khususnya dalam media asam. ” EPA juga menyimpulkan, “endosulfan memiliki potensi yang relatif tinggi untuk bioaccumulate pada ikan.” Hal ini juga beracun untuk amfibi,. Tingkat rendah telah ditemukan untuk membunuh berudu.

Pada tahun 2009, komite ahli ilmiah Konvensi Stockholm menyimpulkan, “endosulfan kemungkinan, sebagai akibat dari transportasi jangka panjang lingkungan, mengarah kepada kesehatan manusia yang signifikan merugikan dan lingkungan hidup sehingga kegiatan global itu dijamin.” Dalam Mei 2011, Konvensi Stockholm komite menyetujui rekomendasi untuk penghapusan produksi dan penggunaan endosulfan dan isomer seluruh dunia. Hal ini, bagaimanapun, tunduk pada pengecualian tertentu. Secara keseluruhan, hal ini akan menyebabkan eliminasi dari pasar global.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, Karbofuran dan Endosulfan merupakan pestisida yang sangat berguna akan tetapi mempunyai banyak dampak yang tidak biasa karena kandungan racunnya. Jadi permasalahannya adalah Bagaimana kita bisa menggunakan pestisida tersebut untuk meningkatkan hasil pertanian tanpa menimbulkan, atau dengan resiko yang sedikit (tidak banyak dampak negatifnya terutama bagi kehidupan manusia).

  1. C.    Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah supaya kita dapat mengantisipasi dampak dari pestisida tersebut dan supaya pembaca bisa mengetahui beberapa cara pencegahan dampak negatifnya dengan menggunakan pestisida tersebut secara baik dan benar.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.    Karbofuran dan Endosulfan

A.1. Karbofuran

  1. 1.      Pengertian Karbofuran

Karbofuran adalah salah satu pestisida karbamat (pestisida yang mengandung gugus karbonat) yang sangat beracun, karbofuran juga biasa di kenal dengan nama furadan. Karbofuran ini digunakan untuk mengendalikan serangga di berbagai tanaman dalam pertanian seperti kentang, jagung, dan kedelai. Karbofuran ini digolongkan kedalam insektisida sistemik, yang maksudnya insektisida ini diserap melalui akar tumbuhan kemudian didistribusikan ke seluruh organ tumbuhan di mana konsentrasi insektisida tercapai. Karbofuran juga memiliki aktivitas kontak terhadap hama.

Spesifikasi Karbofuran

Nama Senyawa : Karbofuran, Furadan, Curater

Nama IUPAC : 2,2-dimethyl-2,3-dihydro-1-benzofuran-7-yl methylcarbamate

Rumus Molekul : C12H15NO3

Massa Molar : 221,25 g mol-1

Rupa : Putih, Kristal Padat

Kepadatan : 1,18 g/cm3

Titik Leleh : 151°C, 424°K, 304°F

Titik Didih : 313,3°C, 586°K, 596°F

Daya Larut Dalam Air : 320 mg/L

Gambar 1        

  1. 2.      Penggunaan dan Efek dari Karbofuran

Karbofuran (2,3-dihydro-2,2-dimethyl-7-benzofuranyl methylcarbamate) adalah insektisida golongan karbamat yang berspektrum luas dan nonkumulatif, merupakan inhibitor enzim kholinesterase melalui kontak dan bekerja pada stoma tanaman dan sangat toksik terhadap mamalia (IPCSINTOX, 1985; FAO, 1997). Insektisida ini bersifat sistemik yang tidak bersifat fitotoksik. Karbofuran digunakan secara luas sebagai insektisida, nematisida dan akarisida yang digunakan dalam pengawetan benih tanaman, aplikasi pada lahan tanaman, dan secara langsung atau pada daun tanaman pangan seperti jeruk, jagung, alfalfa, padi, kentang, kedelai dan tembakau (TOBIN, 1970; BONNER et al., 2005; FAO 1997). Secara fisik, karbofuran berbentuk kristal, titik didih antara 150º – 152ºC, mengandung 98,8% senyawa aktif, tidak bersifat korosif dan tidak mudah terbakar (IPCSINTOX, 1985). Karbofuran didistribusikan dengan nama dagang Furadan. Karbofuran dikenal bersifat toksik pada mamalia dan sangat toksik atau fatal pada unggas. Aplikasi karbofuran melalui penyemprotan lahan dan area berpotensi untuk menimbulkan intoksikasi pada manusia, ternak dan hewan liar. Insektisida karbofuran ini dapat terserap melalui saluran pencernaan dan inhalasi dari proses penyemprotan, tetapi jarang terjadi melalui absorbsi kulit.

Keracunan karbamat merupakan efek nikotinik dan parasimpatetik yang dihasilkan akibat hambatan asetilkholinesterase di dalam sistem syaraf somatik dan autonom perifer (BARON dan MERRIAM, 1988; BARON, 1994; WHO, 1991). Keracunan karbamat bersifat akut yang dapat terjadi melalui inhalasi, gastrointestinal (oral) atau kontak kulit. Karbamat dapat menimbulkan efek neurotoksik melalui hambatan enzim asetilkholinesterase (AchE) pada sinapsis syaraf dan myoneural junctions yang bersifat reversibel (BARON, 1994; RISHER et al., 1987; IPCSINTOX, 1985). Gejala klinis keracunan karbamat merupakan reaksi kholinergik yang berlangsung selama 6 jam. Tingkat keparahannya tergantung pada jumlah karbamat yang terkonsumsi dengan gejala klinis berupa pusing, kelemahan otot, diare, berkeringat, mual, muntah, tidak ada respon pada pupil mata, penglihatan kabur, sesak napas dan konvulsi (RISHER et al., 1987). Keracunan karbamat pada manusia dilaporkan pernah terjadi di Spanyol pada tahun 1998 (ROLDÁN-TAPIA et al., 2005) dengan gejala berkeringat, tremor, myosis, gangguan pernapasan, dan muntah. Karbamat, khususnya karbofuran dilaporkan dapat menimbulkan kanker paru-paru pada manusia (WESSELING et al., 1999; BONNER et al., 2005).

Toksisitas karbofuran bersifat reversibel, hambatan langsung terhadap aktivitas kholinesterase melalui karbomoylasi dari gugusan ester enzim tersebut. Akumulasi asetilkholin pada simpul syaraf simpangan (junction) myoneural menimbulkan efek keracunan. Enzim karbomoyl mengalami reaktivasi secara spontan dan cepat. Karbofuran dan metabolit ester bersifat aktif. Intoksikasi akut buatan pada tikus betina diketahui bahwa kholinesterase otak lebih sensitif terhadap karbofuran dibanding kholinesterase plasma dan eritrosit.

Karbofuran juga diketahui sangat toksik pada unggas dan telah digunakan sebagai pembasmi hama burung di luar negeri (IPCSINTOX, 1985). Sediaan karbofuran dalam bentuk granul dapat membunuh burung bila tertelan hanya dengan 1 butir granul karbofuran. Oleh karena itu, bentuk granular karbofuran telah dilarang peredaran dan penggunaannya di Amerika Serikat sejak tahun 1991. Nilai LD50 karbofuran granul pada ayam domestik mencapai 6,0 mg/kg BB.

Keracunan karbofuran pada manusia umumnya terjadi akibat absorbsi dari saluran pencernaan (secara oral), melalui kulit (dermal) dan inhalasi akibat penyemprotan. Efek toksik pada manusia disebabkan karena aktivitas kholinesterase inhibitor sebagai pestisida bersifat neurotoksik. Gejala keracunan yang terlihat umumnya meliputi penglihatan yang kabur, mual, banyak berkeringat dan lemah.

A.2. Endosulfan

  1. 1.      Pengertian Endosulfan

Endosulfan adalah bahan aktif Insektisida golongan Organoklor yang diperuntukan untuk tanaman dan dalam perdagangannya telah diperingatkan agar tidak digunakan untuk lingkungan perairan. Endosulfan ini juga adalah organoklorin insektisida dan acaricide yang sedang dihapus secara global. Memiliki dua isomer, endo dan exo, yang populer dikenal sebagai I dan II. Sulfat endosulfan adalah produk oksidasi yang mengandung satu atom ekstra O terikat pada atom S. Endosulfan menjadi agrichemical sangat kontroversial karena toksisitas akut, potensi bioakumulasi, dan peran sebagai pengganggu endokrin. Karena ancaman terhadap kesehatan manusia dan lingkungan, larangan global terhadap pembuatan dan penggunaan endosulfan dinegosiasikan di bawah Konvensi Stockholm pada bulan April 2011.

Spesifikasi Endosulfan

Nama Senyawa : Endosulfan, Benzoepin, Endocel, Parrysulfan, Phaser, Thiodan, Thionex

Nama IUPAC : 6,7,8,9,10,10-Hexachloro-1,5,5a,6,9,9a-Hexahydro-6,9-Methano-2,4,3-Benzodioxathiepine-3-Oxide

Rumus Molekul : C6H6Cl6O3S

Massa Molar : 406.939 mol-1

Rupa : –

Kepadatan : 1.745 g/Cm3

Titik Leleh : 70-100°C, 343-373°K, 158-212°F

Titik Didih : –

Daya Larut dalam Air : 0,33 mg/L

                                                                    Gambar 2

  1. 2.      Sejarah Endosulfan

Pada awal 1950-an Endosulfan mulai dikembangkan. Kemudian seiring perkembangannya, pada tahun 1954 Hoechst AG (kini Bayer CropScience) memenangkan persetujuan USDA untuk penggunaan endosulfan di Amerika Serikat, yang kemudian padataun 2000 diakhiri dengan perjanjian dengan EPA.

Pada tahun 2002 The US Fish and Wildlife Service merekomendasikan bahwa pendaftaran endosulfan harus dibatalkan, dan EPA menetapkan bahwa endosulfan residu pada makanan dan air menimbulkan risiko yang tidak dapat diterima. Badan ini memungkinkan endosulfan untuk tinggal di pasar AS, namun dikenakan pembatasan penggunaan pertanian.Kemudian pada tahun 2007 langkah Internasional diambil untuk membatasi penggunaan dan perdagangan endosulfan. Hal ini direkomendasikan untuk dimasukkan dalam Konvensi Rotterdam pada Prior Informed Consent, dan inklusi Uni Eropa yang diusulkan dalam daftar bahan kimia yang dilarang di bawah Konvensi Stockholm tentang Bahan Pencemar Organik yang Persisten. Inklusi tersebut akan melarang semua penggunaan dan pembuatan endosulfan secara global. Sementara itu, pemerintah Kanada mengumumkan bahwa endosulfan berada di bawah pertimbangan untuk fase-out, dan Bayer CropScience sukarela menarik produknya endosulfan dari pasar AS, tetapi terus menjual produk di tempat lain. Karena dampaknya semakin jelas, lagi-lagi pada tahun 2008 Pada bulan Februari, lingkungan, konsumen, dan kelompok buruh tani termasuk Pertahanan Sumber Daya Alam Dewan, Asosiasi Konsumen Organik, dan Pekerja Pertanian Serikat meminta EPA AS untuk melarang endosulfan. Pada bulan Mei, koalisi ilmuwan, kelompok lingkungan, dan suku Arktik meminta EPA untuk membatalkan endosulfan, dan pada bulan Juli koalisi lingkungan dan kelompok pekerja mengajukan gugatan terhadap EPA menantang 2.002 keputusannya untuk tidak melarang itu. Pada bulan Oktober, Komite Ulasan Konvensi Stockholm pindah endosulfan bersama dalam prosedur untuk listing di bawah perjanjian. sementara India diblokir selain untuk Konvensi Rotterdam. Dan tahun 2009 Persistent Organic Konvensi Stockholm Komisi Peninjau Bahan Pencemar (POPRC) sepakat bahwa endosulfan merupakan polutan organik yang persisten dan bahwa “aksi global sangat diperlukan”, pengaturan tahap larangan global. Selandia Baru juga melarang endosulfan. Pada 2010 The POPRC dinominasikan endosulfan yang akan ditambahkan pada Konvensi Stockholm pada Konferensi Para Pihak (COP) pada bulan April 2011, yang akan mengakibatkan larangan global, kemudian EPA mengumumkan bahwa pendaftaran endosulfan di AS akan dibatalkan. Kemudian pada tahun 2011 Mahkamah Agung India melarang pembuatan, penjualan, dan penggunaan pestisida endosulfan beracun di India. Pengadilan apex mengatakan larangan itu akan tetap efektif selama delapan minggu di mana komite ahli yang dipimpin oleh DG, ICMR, akan memberikan laporan sementara ke pengadilan tentang efek berbahaya dari pestisida yang digunakan secara luas. Dan yang terakhir pada tahun 2011 Layanan Argentina untuk Kualitas Sanity dan Agroalimentary (SENASA) memutuskan pada 8 Agustus bahwa impor endosulfan ke negara Amerika Selatan akan dilarang dari 1 Juli 2012 dan komersialisasi dan penggunaan dari 1 Juli 2013. Sementara itu, kuantitas berkurang dapat diimpor dan dijual.

  1. 3.      Produksi Endosulfan

 Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan produksi tahunan di seluruh dunia menjadi sekitar 9.000 metrik ton (t) pada awal tahun 1980. Dari tahun 1980 sampai 1989, konsumsi rata-rata di seluruh dunia 10.500 ton per tahun, dan untuk tahun 1990 meningkat menjadi 12.800 menggunakan ton per tahun.

Endosulfan merupakan turunan dari hexachlorocyclopentadiene, dan secara kimiawi serupa dengan aldrin, chlordane, dan heptaklor. Secara khusus, diproduksi oleh reaksi Diels-Alder dari hexachlorocyclopentadiene dengan reaksi cis-butena-1,4-diol dan berikutnya dari aduk dengan tionil klorida. Teknis endosulfan adalah campuran 7:3 dari stereoisomer, α ditunjuk dan β. α-dan β-endosulfan adalah isomer konformasi yang timbul dari stereokimia piramidal belerang. α-Endosulfan adalah lebih termodinamika stabil dari dua, sehingga β-endosulfan ireversibel mengkonversi ke bentuk α, meskipun konversi lambat.

  1. 4.      Penggunaan Endosulfan

Endosulfan telah digunakan dalam pertanian di seluruh dunia untuk mengendalikan hama serangga termasuk whiteflys, kutu daun, wereng, kumbang kentang Colorado dan cacing kubis. Karena modus unik tindakan, hal ini berguna dalam pengelolaan resistensi,. Namun, karena tidak spesifik, hal itu dapat berdampak negatif terhadap populasi serangga yang menguntungkan. Hal ini, bagaimanapun, dianggap cukup beracun untuk lebah madu, dan kurang beracun untuk lebah daripada insektisida organofosfat.

  1. 5.      Efek dari Endosulfan

Endosulfan adalah salah satu pestisida yang paling beracun di pasar saat ini, endosulfan juga  bertanggung jawab untuk banyak insiden keracunan pestisida mematikan di seluruh dunia. Endosulfan juga adalah zat xenoestrogen sintetis yang meniru atau meningkatkan efek estrogen dan dapat bertindak sebagai sebuah pengganggu endokrin, menyebabkan kerusakan reproduksi dan perkembangan pada hewan dan manusia. Apakah endosulfan dapat menyebabkan kanker masih diperdebatkan. Sehubungan dengan asupan konsumen endosulfan dari residu pada makanan, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB telah menyimpulkan bahwa paparan jangka panjang dari makanan tidak mungkin untuk menyajikan masalah kesehatan masyarakat, namun paparan jangka pendek dapat melebihi dosis referensi akut.

Endosulfan juga bias menyebabkan keracunan, Endosulfan adalah akut neurotoksik untuk kedua serangga dan mamalia, termasuk manusia. US EPA mengklasifikasikan sebagai Kategori I: “Highly akut Toxic” didasarkan pada nilai LD50 dari 30 mg / kg untuk tikus betina, sementara Organisasi Kesehatan Dunia mengklasifikasikan sebagai Kelas II “Cukup Berbahaya” didasarkan pada tikus LD50 dari 80 mg / kg . ini adalah saluran klorida antagonis, dan Ca2 +, Mg2 + ATPase inhibitor. Kedua enzim yang terlibat dalam transfer impuls saraf. Gejala keracunan akut termasuk hiperaktif, tremor, kejang, kurangnya koordinasi, mengejutkan, kesulitan bernapas, mual dan muntah, diare, dan dalam kasus yang parah, pingsan Dosis serendah 35 mg / kg telah didokumentasikan untuk menyebabkan kematian. pada manusia, dan banyak kasus keracunan subletal telah mengakibatkan kerusakan otak permanen pekerja pertanian dengan paparan endosulfan kronis beresiko ruam dan iritasi kulit. Akut referensi EPA dosis untuk paparan diet untuk endosulfan adalah 0,015 mg / kg untuk orang dewasa dan 0,0015 mg / kg untuk anak-anak. Untuk expsoure diet kronis, EPA referensi dosis adalah 0,006 mg / (kg · hari) dan 0,0006 mg / (kg · hari) untuk orang dewasa dan anak-anak, masing-masing.

Theo Colborn, seorang ahli gangguan endokrin, daftar endosulfan dikenal sebagai pengganggu endokrin, dan kedua EPA dan Badan Zat Beracun dan Penyakit Registry menganggap endosulfan menjadi pengganggu endokrin potensial. Sejumlah penelitian in vitro telah mendokumentasikan potensi endosulfan untuk mengganggu hormon dan studi hewan telah menunjukkan toksisitas reproduksi dan perkembangan, khususnya di kalangan laki-laki . Sejumlah penelitian telah mendokumentasikan bahwa ia bertindak sebagai anti androgen pada hewan.

 

 

BAB III

PEMECAHAN MASALAH

Harus diakui walaupun pestisida sangat berbahaya, peningkatan produksi pertanian dapat tercapai justru dengan bantuan pestisida. Pencemaran yang disebabkan oleh pestisida bukan hal sepele. Tetapi kalau cara pemakaian pestisida dilakukan dengan sangat hati-hati, kemungkinan besar pencemaran dapat dihindari atau setidaknya mengurangi bahayanya pembatasan pemakaian pestisida ini sudah dimulai dengan gebrakan PAN (Pesticides Action Network) yang beranggotakan 50 negara, termasuk Indonesia.

Bagaimanapun juga pestisida adalah racun. Sebenarnya kalau ada kerugian yang ditimbulkan oleh pestisida, maka yang paling menderita adalah manusia. Manusia harus bertanggung jawab terhadap kerusakan yang timbul, karena semua kegiatan pencegahan hama adalah hasil karya manusia dan di tujukan untuk pemenuhan kebutuhannya. Manusia adalah pelaku utama pemberantasan hama. Karena itu selain perlindungan terhadap tanah, air, dan hewan lainnya dari bahaya pestisida, perlindungan pertama justru harus diberikan terhadap manusia.

Pada pencemaran lingkungan oleh pestisida, beberapa tindakan pencegahan yang perlu dilakukan antara lain:

  1. ketahuilah atau pahamilah dengan yakin tentang kegunaan dari suatu jenis pestisida. Jangan sampai terjadi salah berantas.Misalnya herbisida jangan digunakan untuk membasmi serangga. Hasilnya, serangga yang dimaksud belum tentu mati, sedangkan tanah atau tanaman telah terlanjur tercemar.
  2. ikuti petunjuk-petunjuk mengenai aturan pakai dan dosis yang dianjurkan pabrik atau petugas penyuluh,
  3. jangan terlalu tergesa-gesa menggunakan pestisida, Tanyakan pada penyuluh apakah sudah saatnya digunakan pestisida, karena belum tentu suatu jenis hama harus diberantas dengan pestisida.
  4. Jangan telat memberantas hama. Jika penyuluh sudah menganjurkan untuk menggunakan pestisida, cepatlah dilakukan. Dengan semakin meluasnya hama akan membutuhkan penggunaan pestisida dalam jumlah besar, ini berarti hanya akan memperbesar peluang terjadinya pencemaran,
  5. jangan salah pakai pestisida. Selain satu jenis pestisida biasanya hanya digunakan untuk suatu jenis hama tertentu, terkadang usia tanaman yang berbeda menghendaki jenis pestisida yang berbeda pula,
  6. pahamilah dengan baik cara pemakaian pestisida. Jangan sampai tercecer di sekitar tanaman,
  7. jika pestisida yang akan digunakan harus dibuat larutan terlebih dahulu, gunakan tempat yang khusus untuk itu. Pada waktu mengaduk, larutan jangan sampai tercecer ke tempat lain. perhatikan dengan tepat jumlah larutan yang dibuat agar tidak terdapat sisa setelah pemakaian.

Beberapa tindakan yang perlu diambil untuk mencegah keracunan oleh pestisida, yaitu:

A. Penyimpanan racun-racun hama:

  1. Racun-racun harus disimpan dalam wadah-wadah yang diberi tanda, sebaiknya tertutup dan dalam lemari tersendiri yang terkunci.
  2. Campuran racun dengan tepung atau makanan tidak boleh disimpan dekat makanan.
  3. Tempat-tempat bekas menyimpan yang telah tidak dipakai lagi harus dibakar, agar racun-racun sisa musnah sama sekali.
  4. Penyimpanan-penyimpanan di wadah-wadah untuk makanan atau minuman seperti di hotel-hotel, sangat besar bahayanya.

B. Pemakaian alat-alat pelindung

  1. Pakailah masker dan adakanlah ventilasi keluar setempat selama melakukan pencampuran kering bahan-bahan.
  2. Pakailah pakaian pelindung, kaca mata dan sarung tangan terbuat dari neopren, jika kerjaan dimaksudkan untuk mencampur bahan tersebut dengan minyak atau pelarut-pelarut organis.Pakaian pelindung harus dibuka dan kulit dicuci sempurna sebelum makan.
  3. Pakailah pelindung pernafasan, kaca mata, baju pelindung, dan sarung tangan selama menyiapkan dan enggunakan semprotan, kabut atau aerasol, jika kulit atau paru-paru mungkin kontak dengan bahan tersebut. Alat-alat pelindung harus terbuat dari karet atau bahan tahan minyak.

C. Cara-cara pencegahan lainnya

  1. Selalu menyemprot ke arah yang tidak memungkinkan angin membawa bahan, sehingga terhirup atau mengenai kulit dari tenaga kerja yang bersangkutan.
  2. Hindarkan waktu kerja lebih dari 8 jam sehari bekerja di tempat tertutup dengan memakai penguap termisi jauhkan alat tersebut dari rumah penduduk dan tempat pengolahan bahan makanan.
  3. Janganlah disemprot tempat-tempat yang sebagian tubuh manusia akan bersentuhan dengannya pestisida, manusia dihadapkan pada suatu dilema.

Selain di atas, berikut juga merupakan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan pestisida

  1. Pestisida digunakan apabila diperlukan
  2. Sebaiknya makan dan minum secukupnya sebelum bekerja dengan pestisida
  3. Harus mengikuti petunjuk yang tercantum dalam label
  4. Anak-anak tidak diperkenankan menggunakan pestisida, demikian pula wanita hamil dan orang yang tidak baik kesehatannya
  5. Apabila terjadi luka, tutuplah luka tersebut, karena pestisida dapat terserap melalui luka
  6. Gunakan perlengkapan khusus, pakaian lengan panjang dan kaki, sarung tangan, sepatu kebun, kacamata, penutup hidung dan rambut dan atribut lain yang diperlukan
  7. Hati-hati bekerja dengan pestisida, lebih-lebih pestisida yang konsentrasinya pekat. Tidak boleh sambil makan dan minum
  8. Jangan mencium pestisida, karena pestisida sangat berbahaya apabila tercium
  9. Sebaiknya pada waktu pengenceran atau pencampuran pestisida dilakukan di tempat terbuka. Gunakan selalu alat-alat yang bersih dan alat khusus
  10. Dalam mencampur pestisida sesuaikan dengan takaran yang dianjurkan. Jangan berlebih atau kurang
  11. Tidak diperkenankan mencampur pestisida lebih dari satu macam, kecuali dianjurkan
  12. Jangan menyemprot atau menabur pestisida pada waktu akan turun hujan, cuaca panas, angin kencang dan arah semprotan atau sebaran berlawanan arah angin. Bila tidak enak badan berhentilah bekerja dan istirahat secukupnya
  13. Wadah bekas pestisida harus dirusak atau dibenamkan, dibakar supaya tidak digunakan oleh orang lain untuk tempat makanan maupun minuman
  14. Pasanglah tanda peringatan di tempat yang baru diperlakukan dengan pestisida
  15. Setelah bekerja dengan pestisida, semua peralatan harus dibersihkan, demikian pula pakaian-pakaian, dan mandilah dengan sabun sebersih mungkin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pestisida merupakan produk sebuah revolusi yang tidak hanya menarik tetapi juga mengerikan. Berhadapan dengan pestisida dipakai, lingkungan alam tercemar. Apabila tidak dipakai hama dan penyakit menjadi momok bagi manusia. Inilah yang disebut tragedi. Dan manusia yang berhadapan dengan tragedi bisa mengambil sikap dan langkah yang pasti sesuai dengan tuntutan situasi.

Apabila pestisida dipakai dalam batas-batas kewajaran sesuai dengan petunjuk penggunaan kiranya merupakan tindakan yang bisa memperkecil lingkup risiko yang harus ditanggung manusia dan alam.Pemakaian pestisida secara membabi buta bisa mengundang bencana. Oleh karena itu masalah pestisida menuntut perhatian semua pihak, tidak hanya para pejabat, tidak hanya si pemakai jasa. Kita semua memikul tanggung jawab bersama atas lingkungan hidup kita sendiri. Pestisida bukan hanya menjadi tanggung jawab pabrik penghasil, dan tanggung jawab pemerintah yang memberi izin produksi, tapi menjadi tanggung jawab semua pihak, semua bangsa dan semua negara.

Jikalau di suatu negara suatu jenis pestisida sudah diteliti, dinyatakan berbahaya, dan dilarang untuk dipergunakan, semestinya semua negara di dunia juga harus mengerti akan hal itu dan ikut melaksanakannya.Bersikap mendua dalam mengambil langkah kiranya kurang membantu.Pemakaian pestisida dilarang tetapi tetap diproduksi dan bahkan diekspor ke negara tetangga.

Setiap usaha pemberantasan harus melibatkan semua pihak dan bersifat menyeluruh, kalau diharapkan berhasil. Mudah-mudahan di masa mendatang kasus-kasus akibat pemakaian atau produksi pestisida mulai mengecil atau bahkan hilang sama sekali. Meskipun sulit, kita semua berjuang agar risiko bagi lingkungan itu makin diperkecil.

  1. B.     Saran

Dari pembahasan yang mulai dari latar belakang, rumusan masalah, pemecahan masalah, sampai kesimpulan terpaparkan bahwa pestisida itu (khususnya yang dibahas di sini karbofuran dan endosulfan) diperlukan, akan tetapi mempunyai dampak yang tidak biasa, terlebih mengancam kehidupan, oleh karena itu kami menyarankan untuk pengguna pestisida sebagai pemberantas hama supaya menggunakan pestisida dengan sebaik-baiknya dan memperhatikan dosis dan menggunakan cara penggunaan yang benar.

DAFTAR PUSTAKA

Darmono .“toksisitas pestisida” Jakarta 2008

Pohan Nurharmawati.”pestisida dan pencemarannya” skripsi sarjana tidak diterbitkan, Universitas Sumatera Utara

http://id.wikipedia.org/wiki/Pestisida

http://en.wikipedia.org/wiki/Carbofuran

http://en.wikipedia.org/wiki/Endosulfan

http://ms.wikipedia.org/wiki/Racun_nematod

http://www.kesmas-unsoed.info/2011/05/makalah-pengertian-dan-penggolongan.html

http://tobethelast.blogspot.com/2012/12/pestisida-karbamat.html

http://digilib.its.ac.id/kajian-penggunaan-pestisida-endosulfan-pada-tambak-udang-di-kelurahan-keputih-surabaya-1495.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s